TERDENGAR aneh tatkala seorang mengembangkan usaha berdasarkan mitos di zaman yang serba canggih ini. Namun, keanehan tersebut mampu menimbulkan decak kagum, saat usaha itu menghasilkan omzet hingga puluhan juta per tahun.
Waltono, pengusaha kerajinan akar wangi membuktikan hal itu. Tujuh tahun silam, lelaki yang akrab disapa Tono ini hanya seorang pemuda yang hampir putus asa karena tak kunjung memperoleh pekerjaan yang layak.
Di tengah hilangnya asa itu, salah seorang saudaranya yang berkecimpung di kerajinan akar wangi kewalahan melayani pesanan. Kemudian menawarinya untuk terlibat di usaha ini.
Intuisi Tono memberikan sinyal pangsa pasar kerajinan ini terbilang bagus. Apalagi, di masyarakat Indonesia ada mitos yang mengatakan bahwa akar wangi adalah salah satu bahan natural pengusir nyamuk.
Berangkat dari pemikiran itu, dia pun menyambut positif tawaran tersebut. Kemudian, Tono diajari bagaimana membentuk akar wangi menjadi suatu produk hiasan. Waktu terus bergulir, keahlian Tono terus terasah. Saat ini, lelaki kelahiran Bantul, 12 Mei 1977 ini mampu menciptakan boneka, becak, kura-kura, pohon natal hingga ukuran dua meter yang berasal dari akar wangi.
Produk buatannya seperti boneka dan kura-kura dihargai Rp1.500- Rp20.000. Sementara pohon natal ukuran 50 centimeter hingga dua meter senilai Rp40.000-Rp500.000.
Di pasar lokal, kerajinan Tono juga diminati oleh hotel-hotel berbintang terutama di kota Bali. Sementara di pasar internasional, produknya merambah hingga Yunani, Perancis, Australia, dan Inggris.
walto2.jpgMenurut suami Rina Anggraeni (37) ini, kerajinan akar wangi diminati oleh konsumen asing karena mereka menilai kerajinan ini adalah kerajinan natural yang unik. “Bentuknya ‘lucu’ dan wangi,” katanya kepada okezone.
Pada 2003, Tono membuka showroom di Jalan Kasongan, Bantul, Yogyakarta. Daerah Kasongan memang terkenal akan kerajinan alam, banyak konsumen asing yang berdatangan ke daerah itu.
Dari situlah dia mampu memasarkan produknya. Predikat pemuda pengangguraan mulai meninggalkannya. Kini, omzetnya mencapai sekira Rp25 juta per tahun. Padahal, dia hanya mengeluarkan modal awal sekira Rp2 juta.
Tak hanya disitu, pasang surut usaha pernah menghadang Tono. Dia sempat kehilangan Showroomnya. Mengakali ini, dia selalu menyempatkan diri mengikuti pameran kerajinan. “Melalui pameran, kita bisa memperluas pemasaran,” tegas ayah tiga anak ini, Sony Antono Putra (7), Afrizal Dwi Saputra (5), dan Afreno Saputra (2) ini.
Menurutnya, kini pengrajin akar wangi telah berkurang karena pangsa pasar telah berkurang. “Ekonomi sedang sulit jadi pembelian juga berkurang,” ujarnya.
Melihat kondisi itu, Tono tetap optimis usahanya akan masih bisa berkembang. Apalagi, dia meyakini masih banyak ide yang belum digarap. ”Dalam menjalankan usaha yang terpenting adalah telaten dan berkompetisi secara fair,” ujarnya dengan yakin.
Mengenai kendala teknis, Tono mengeluhkan kelangkaan bahan baku terutama pada musim hujan. Pada masa itu tanah basah terguyur hujan, akibatnya akar pohon ikutan basah. Sehingga jumlah pasokan bahan baku berkurang hingga 30 persen.
Sementara itu, dalam mempekerjakan karyawannya, Tono menggunakan sistem borongan. Setiap pesanan, dia mempekerjakan hingga 25 pegawai. Menurutnya, sistem ini lebih efektif karena mereka dibayar sesuai jumlah produk yang mereka hasilkan. “Mereka juga lebih giat memproduksinya,“ paparnya.
Tono juga tidak ragu mempekerjakan pegawai lepas ini. Menurutnya, hampir seluruh penduduk Kasongan familiar dengan kerajinan alam. Sehingga, mereka paham tata cara membuat produk kerajinan akar wangi. ”Ide berasal dari saya sementara mereka yang mengerjakan teknik pembuatannya,” tuturnya.
Saat ini, keinginan Tono adalah memiliki showroom. Ia juga ingin menciptakan produk yang lebih fungsional, seperti tatakan gelas, tudung saji (penutup makanan) yang terbuat dari akar wangi. “Produk saya tidak hanya untuk hiasan tapi juga bisa digunakan,” harapnya.
Sumber: dari internet
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar